Material Baru Ini Siap Gantikan Sepeda Karbon

Material LFC yang diaplikasikan pada frame 

Di dunia sepeda, karbon saat ini masih menjadi “raja” dalam hal material atau bahan untuk frame sepeda.

Pasalnya, hampir di setiap merek sepeda top dunia menempatkan sepeda berbahan karbon sebagai varian tertinggi alias yang termahal.

Tapi, keberadaan sepeda karbon sebentar lagi bisa jadi akan tergeser dengan adanya sejumlah material baru. Sampai saat ini, setidaknya telah ada 4 bahan atau material baru yang digadang-gadang bakal menggantikan sepeda karbon di masa depan. Material tersebut adalah Long Carbon Fiber Reinforced Composites (LFC), Un-Break System (UBS), Dyneema dan Graphene/borophene.

Material tersebut diklaim oleh para penemu ataupun pabrikan pembuatnya, memiliki keunggulan dari bahan karbon saat ini.

Apa saja keunggulan material baru tersebut dibanding karbon?

Long Carbon Fiber Reinforced Composites
Long Carbon Fiber Reinforced Composites (LFC) adalah sebuah material yang dikembangkan oleh Hsin Yung Chien Co Ltd (HYC) yang berbasis di Taiwan.

Meski masih berbasis karbon, LFC disebut-sebut sebagai material karbon yang dapat didaur ulang.

Pengembangan material LFC yang dilakukan oleh HYC dan didukung oleh sebuah lembaga yang didanai pemerintah Taiwan ini berangkat dari kekhawatiran akan bahan karbon pada sepeda saat ini yang dinilai masih kurang ramah lingkungan. LFC sendiri telah diperkenalkan di ajang pameran sepeda terbesar di dunia Taiwan Cycle Show.

Menurut HYC, karbon pada sepeda high end saat ini bukanlah dari bahan karbon, melainkan material yang didalamnya dibuat dari campuran resin epoxy dan karbon. Untuk itu HYC menggunakan resin PPS mereka yang diklaim ramah lingkungan dan menggunakan hanya 10% karbon untuk membuat pipa LFC. Material tersebut bisa lebih kuat bila ditambahkan karbon lagi hingga 30%.

Disamping itu, tidak seperti karbon standar yang dibuat dengan menggunakan proses lay up, LFC dibuat dengan teknik penyuntikkan pada cetakan yang membuatnya lebih murah dalam waktu yang lama.

HYC juga telah menampilkan sepeda LFC - yang mirip dengan metode produksi pada sepeda Atherton Bikes. Tapi sepeda tersebut masih memiliki bobot yang lebih berat. HYC juga mengklaim, material ini akan dipasarkan dalam 2 tahun mendatang dan telah diminati oleh sejumlah pabrikan sepeda terkemuka di dunia. 

Un-Break System (UBS)
Dikembangkan oleh Kalloy, material Un-Break System (UBS) juga telah dibawa ke Taipei Show.

Pada dasarnya, material UBS adalah karbon yang diisi dengan lapisan aluminum foil di dalamnya. Kalloy mengklaim, UBS memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap benturan dibanding karbon standar. Material ini juga mengkombinasikan antara bobot yang ringan dan kekokohan pada karbon dengan sifat aluminum yang ringan dan serba guna.

Disebutkan pula, ketika UBS patah, dia akan retak tapi tidak akan patah secara total, seperti karbon biasa.

Pada contoh yang telah ada, UBS memang tidak seringan karbon, namun kalloy mengklaim, UBS dapat dibuat lebih tipis dan menambah kekuatan dari aluminum, yang secara keseluruhan akan membuatnya menjadi lebih ringan.

Saat ini Kalloy baru memiliki beberapa handle bar dan seat post berbahan UBS. Namun kedepannya, sangat mungkin mereka untuk membuatnya dalam bentuk lain.

Dyneema
Dyneema diklaim akan menjadi serat terkuat di dunia, meski belum turun ke dunia MTB. Material ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Dr. Albert Pennings, ketika melakukan riset tentang polyethylene  untuk pertambangan batu bara. 20 tahun kemudian, lahirlah Dyneema.

Dyneema diklaim 15 kali lebih kuat dari baja, namun bisa mengapung di air. Dengan memiliki Kombinasi kekuatan yang ekstrem dan bobotnya yang ringan, material ini bisa diaplikasikan untuk beragam kebutuhan lainnya.

Pada industri sepeda, saat ini Dyneema telah digunakan sebagai bahan jari-jari roda oleh Newman Wheels, yang diperkenalkan pada dua penyelenggaraan Taipei Cycle Shows terakhir. Material ini diklaim mampu menyerap getaran hingga 100% dan memiliki sifat anti-benturan yang tinggi.   

Graphene/Borophene
Sejak ditemukan pada tahun 2003, Graphene telah dianggap sebagai material ajaib di dunia. Tak hanya kuat, material ini juga elastis dan ringan.

Material ini muncul di dunia sepeda lewat frame buatan pabrikan Inggris, Dassi, yang memintal Graphene dengan karbon. Kemudian, Vittoria juga menggunakan bahan yang sama pada ban buatannya untuk melawan bocor dan anti-abrasi pada bannya. Dengan material tersebut, ban ini memiliki kebutuhan udara yang lebih sedikit, ban yang kuat serta meningkatkan cengkaraman ban pada kondisi basah.

Rotor yang terbuah dari bahan Graphene

Tapi, baru-baru ini juga telah muncul material baru dari pengembangan Graphene, yakni borophene. Borophene adalah lapisan tipis dari atom boron, bukan karbon, dan diklaim lebih kuat dan fleksibel.

Material baru di atas memang memiliki sejumlah keunggulan dibanding karbon. Tapi, apakah mereka bakal berhasil menggeser karbon dari kasta tertinggi sepeda saat ini? Kita nantikan saja hasilnya bersama! 

***

Sumber & Foto: Pinkbike

Baca juga:
Kejuaraan Dunia E-MTB Pertama Digelar Agustus
Timnas XC Berlaga di India


Komentar